....aku ingin menjengukmu di sana;

tetapi hanya sesaat saja kita bercengkrama

dengan letusan jantung kita masing-masing

lalu melahirkan anakanak puisi di atas tanah kerontang...

Selasa, 27 Juli 2010

TANAH MERAH

bukit sembilan,
wepko dan tanah merah


sepagi ini, bukit sembilan telanjang;
pamerkan birahi tengkorak karang, tetes darah pasir sleg
pun tangis sungai kumoro yang tidak lagi bening –
jalan setapak dan ia punya gelombang
kehilangan arah di mekongga

fajar lalu memburu memerah petang
berkejaran dengan wepko menjelajah pulau maniang,
wepko menikam-nikam berkilometer belantara mekongga
menjaring tanah merah tambang
lalu mengirimkan kami debu cerobong

kemari luale, kita molulo
diantara porak-porakkan karang tanah;
meski kecut geraman tarian kita, karandu dari buyut tetap mesra
mengiring hentak kaki dalam gema

kemari luale, kita menyusur alir darah kongga
diantara porak-porakkan hati kita, kita mencari konawe
meski bayang-bayang bukit sembilan, pun raung wepko
sudah kita buang.

sopura, 11 juli 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar