bukit sembilan,
wepko dan tanah merah
sepagi ini, bukit sembilan telanjang;
pamerkan birahi tengkorak karang, tetes darah pasir sleg
pun tangis sungai kumoro yang tidak lagi bening –
jalan setapak dan ia punya gelombang
kehilangan arah di mekongga
fajar lalu memburu memerah petang
berkejaran dengan wepko menjelajah pulau maniang,
wepko menikam-nikam berkilometer belantara mekongga
menjaring tanah merah tambang
lalu mengirimkan kami debu cerobong
kemari luale, kita molulo
diantara porak-porakkan karang tanah;
meski kecut geraman tarian kita, karandu dari buyut tetap mesra
mengiring hentak kaki dalam gema
kemari luale, kita menyusur alir darah kongga
diantara porak-porakkan hati kita, kita mencari konawe
meski bayang-bayang bukit sembilan, pun raung wepko
sudah kita buang.
sopura, 11 juli 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar