ritus molulo
bumi merubah nasib:
pesta kawin, panen, dan kematian
tiba-tiba menjemput
bumi dijajal:
kedua telapak kaki menari
jemari adam erat menganyam jemari hawa
luluh lantakkan tanah
pada pusar lingkar kekerabatan
bumi bersaksi:
demi cucu merukun
tiga bunyi karandu
dititipkan tono motuo
demi kami
inggomiu
merukunlah dalam lingkar kekerabatan
konawe, 2004
ritus mosehe
tanah tolaki beraroma duka
yang berselisihan, yang menabur tabu
seketika luruh ke upacara adat
“di tembikar pandan
melilit erat tiga simpulan rotan
berlingkaran di antara dedaunan siri dan buah pinang
beralas kain putih sebagai kesucian”
kalosara, ke langit di agungkan
dengarlah
pabitara menyentuh sukma
menembang pembuka percakapan
“ni ino saramami” – petuah adat temurun
terus utuh walau guntur
bergemuruh beruntun tak gentar.
orangorang diam khusyuk
membuang amarahnya yang menusuk
ke liangliang upacara mosehe
demi siapa mata taawu dihunuskan?
menggorok leher tumbal
lalu darahnya berceceran ke bumi
menyerahkannya kepada alam
tanah tolaki beraroma duka
yang berselisihan, yang menabur tabu
kerbau putih tumbang
lemas dan limbung
menolak abala kampung
membayar utangutang perseteruan
siapakah mencipta perang ini?
siapa telah memanggil ritusritus itu
konawe, 2004
jejak penutur
dari zaman baheula
kau, beranak pinak dengan ritus istiadat
merukun di padang-padang waktu
sampai luruh usia
karena alam bermunajat
dari zaman belanda
dia, dibesarkan dengan ikatan rumpun
menyelami palung lautan silsilah
hingga kerontang tubuh karena melebur adat temurun
dari zaman kemarin
aku, terlahir dengan hikayat
melanjutkan jejak-jejak sang penutur
sampai ke padang yang semakin kerontang
di lahirkan kembali sebagi tuturan
konawe, juni 2009
jejak upacara
sebelum petang
tiba-tiba kau larungkan tubuhmu diiringan gong
menjamah tradisi moyang
yang lamat-lamat kau benamkan ke palung jantung
adakah upacara kawin itu
telah meluruhkan pikiranmu?
hingga sebelum fajar menyeruak kepesisir
kau sudah lebih dahulu bergetir
meronta-ronta ingin lebih andil di tanah leluhur
tiba-tiba kau lusuh
di kerumunan yang bergemuruh
membesut debu-debu di wajah
seperti orang-orang upacara yang mulai sendu
bergelisah isak-isak mereka
sambil terusan menancapkan ke waktu
jejak-jejak babatan ritus
konawe, juni 2009
pesta
di ujung takbiran
beduk dan gong gemelentam
kita merencanakan pesta kenang
bukan untuk pesta arak dan raung perang
di selubung malam
pesta kenang yang bergemintang
di siang sebelum orang hanyut bergenggaman
anak-anak muda lebih awal menerjang kegembiraan
sebagian orang-orang mengasah parang
lalu, ketika berang, ditebang saung
melarungkan jantungnya yang berdentam
ke dalam riang-riang malam
di sela anyir malam
masih juga kau tuturkan
kisah dari pesta yang tenggelam.
konawe, juni 2009
aroma pesta
diantara gemuruh tetabuhan dan orang lalu lalang
berseliweran pula anyir sate kerang dan kembang
limbang diserubungan hentakan kaki yang melantang
kita hirup aroma itu sedalamnya
sedalam makna wangi undangan
sedalam luasan saung
sedalam jantung orang bergandengan
:menggelitar ikuti tabuhan gong
yang akan benam sebelum pagi datang
yang akan berdiam sebelum perang
orang mabuk memberang
kendari, juni 2009
seusai pesta perkawinan
senjakala melerah
seusai perkawinan ama dan ina
di kursi pelaminannya kita istirah
menyulam kain-kain silsilah
dari wajah-wajah lindap
menganyam rumpun-rumpun
yang melesap di ujung pesta
sebelum kita terkubur
dan tak tahu mereka
kendari, juni 2009
tentang pesta kita
kau ingatkah?
pesta kawin terdahulu
saat musim kawin merekah
tonomotuo terusan menitir tiga gong
remaja pun tetua menarikan lulo
ibuibu, pengelana pesta
merubung gunjing
menyayat rebung dan daging
seperti merajam hatinya sendiri yang ringkih
kita sendiri timpuh
di riang riang yang rantak
dan hati balau
kau ingatkah?
pesta yang remuk dan lantah itu
suasana yang berubah ringisan
lalu rebah
karena gema bait-bait elekton
bergenderang sambut perang zaman
merajam-rajam setiap jejak tradisi
kau ingatkah?
ritus-ritus pesta lampau
kini menitis upacara ceremoni nan kacau
merayah lopa-lopa, tabere dan manggilo
lalu menanggalkan pabittara di ujung waktu
kendari, juni 2009
tabere
butterfly, mesin jahit
buatan masa lampau dan kini mengeriput;
sisa ragaman benang, jarum jahit
kotak perkakas dan juga perca-perca kain
rapi tertata, terselimuti sisa-sisa tabere
(yang belum terselesaikan barisan-barisannya
oma tua belum tuntas menyambung makna-makna persaudaraan)
kalau saja musim perkawinan sekarang
masih mengikuti jejak-jejak tempo lalu
(tenda alam, plafon tabere, tabuhan gong
juga sayatan daging ibu-ibu sekampung)
tentu kiranya istiadat yang kami gendong
terusan menceritakan hal ihwal muasal kami.
anggaberi, februari 2009
Mantap Brow..
BalasHapus