....aku ingin menjengukmu di sana;

tetapi hanya sesaat saja kita bercengkrama

dengan letusan jantung kita masing-masing

lalu melahirkan anakanak puisi di atas tanah kerontang...

Jumat, 30 Juli 2010

SAJAK-SAJAK TENTANG LAMPU

lampu (1)

fresnel yang kerap aku bangkitkan jantungnya
seketika tersungkur ke lantai
nyalak matanya
redam dan mati

bahkan di usia yang terbungkus debu
masih sempat ia mengebugebu
menghujankan sapuan cahaya
dari kelam biru misterius
hingga senja amber yang tergores
sebelum akhirnya
ia pamitan dengan letupletupan korslet
di batten berkarat.





lampu (2)



“ jalankan dimer
nyalakan par
siram lagi backlight border
berangsurangsur”

sutradara yang senantiasa getir
suaranya menggelegar
dari walky talky yang tergeletak di meja kontrol

ia mencemaskan setiap peristiwa adegan
serupa merisaukan dirinya dengan penonton
serupa penonoton adalah raja di masa depan
dan lampulampu hanyalah budak
para penyaji panggung laiknya bidak.






lampu (3)

pemburu hiburan itu pun bubar
aku terpekur di traptrap berbadan pudar

barusan saja dadaku berdebar
mengejar jalan lakonlakon yang satir
melesatkan cahaya pendar, samar
cahaya lampu par

lampu yang sesekali membunuh tidurku
menikamkan sinar pedangnya yang abyad
ke mataku, ke jasadku
ke binarbinar dada pemburu hiburan absurd.






lampu (4)


masih sempatkah kita menghela nafas?
ketika tiba saatnya follow spot dengan bengis
melesatkan peluru merkuri
ke ruangruang gelita pentas

di balkon
kita hanya menangkap tarian binal yang liar
yang menjelajahi lantai dengan sepatu balet
sebelum keburu follow ditidurkan pln.





cerita lampu


i/
adakah lampu yang paling abyad dan abadiah
selain lampu milik tuhan?

siang benderang ia legamkam orang-orang di papua
intensitas cahaya amber di turunkan menjelang senja di bali
malam sesekali gulita yang menyisa kerlapkerlip bintang di jakarta
lalu kilatan blitz di musim petir
kita kerap di potret hingga terbakar

ii/

bosan dengan lampu gemerlapan
para pemuja malam
menjelajah temaram

diantara wajahwajah bercahaya pendar
ia membuang birahinya di belukaran

iii/

malam
lampu padam

anakanak mengeja kata kalam
dengan cahaya templok yang temaram
dengan gairah hati yang hampir karam


iv/

pengendara sepeda motor
menderu merayapi gelita
mengejar anyir birahi
terpasung di loronglorong lindap

dalam gelap
motor di standar
benderang lampu dalam dirinya diredupkan
disimpan dalam nyala rindu yang lintuh
sebelum ia hanyut
dalam rengkuh pelukan istri yang berlimbak pula rindu


v/

siapakah yang telah memadamkan lampu cinta di tubuhmu?
hingga di palung jantungmu
aku terjerumat ke gelap dan tak menemukan serengkuh nyala
untuk menuntunku menjelajahi hidupmu

apakah telah kau padamkan juga?
lampu surgawi
dimana sebelum senja tempo lalu, kutitipkan kepadamu
sebagai penebusan gejolak khilafan, senantiasa menggelitar di dadaku
lalu menenggelamkanmu ke kamarkamar sunyi

siapakah aku di duniamu?
yang telah kau tanggalkan lampulampunya dari tiangtiang jantungmu.

kendari, juni 2009






lampu (5)

di kota lama
ada sebuah toko lampu yang purba
di situ kita meliriklirik beragam lampu mewah
lalu mencocokan dengan kita punya uang receh

segera kubeli balon lima watt
untuk kamar kita yang beraroma lumut
tanpa ku sangka kau membeli juga lampion hati
lalu menaruhnya di dadaku yang kerap sepi.

kendari, 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar