....aku ingin menjengukmu di sana;

tetapi hanya sesaat saja kita bercengkrama

dengan letusan jantung kita masing-masing

lalu melahirkan anakanak puisi di atas tanah kerontang...

Jumat, 30 Juli 2010

SAJAK-SAJAK PERJALANAN

ketika nasib teriris peradaban


ketika nasib teriris peradaban
dari perkebunan barisan kelapa di bandaeha;
menggumpalkan asap keperihan hidup
wajahwajah gusar dengan balau hati tegar membakar
kopra di perapian rumah-rumah seadanya.

di belakang rumah osu monggee*)
kembali ama dan ina mengenang kita
mengenang kebun pisang, cengkeh dan ladang ketan merah
(menyisah asap dari hutan yang terbakar)
mengenang aliran kali dan bibir pantai
(ikan mati oleh tuba dan minyak pertambangan)
mengenangkan anakmu
(yang senantiasa ke lautan dan belum kembali)

anak-anakmu pulang ke perahu-perahu masa lampau
di lauatan yang berpulau-pulau.


bandaeha, maret 2009

*)
gunung miring



sebelas kilometer

sebelas kilometer hamparan padang kerontang
di tanah moyang hanya ada ladangladang kosong
sisasisa dari hutan rimba masa lampau
sisasisa dari langkah masa muda

sebelas kilometer tubuh kehilangan makna
ditanah sendiri

konawe, januari 2009


kau bercerita

kau bercerita
air laut pasang surut di desamu
sesekali tiba-tiba menjenguk kalian;
lalu sekembalinya ke lautan teluk
dibawa serta pula sisasisa puingan rumah,
perahu, pohon coklat dan cengkeh
dan apa saja
(sebenarnya tak kau relakan untuk diberi).

lalu ku tangkap rona wajahmu
menyesali kehadiran sisi lain lautan
mengingat ingat kunjungan ombak
(kadang tidak selalu bersahabat dan ramah).


wolo, 2009



perjalanan pendek


beranjak dari kamar yang sempit;
buku-buku, kertas kusam,patahan potlot, ransel
dan hari baru, kuangkut bersama
menyusuri lorong lorong asing
lalu melenyap di ujung jalan

tanpa upacara perpisahan;
tiada derai-derai itu
meski senantiasa ku ingat ingat polosmu
ketika melintas wajah lain.

aku tahu, engkau telah menanggalkan waktu-waktu kita
hingga perjumpaan lalu, menanggalkan sajak
(sajak yang kini tengah beranak pinak)

uepai, feb. 2009



kita masih punya apalagi?

barisan pohanan kelapa lasolo
bergunung gunung
tunas kawanan cengkeh lasusua,
ranggasan kayu jati di raha
rebah tak terbayarkan
oleh gugusan pohon merica di kolaka

kita masih punya apalagi?
kecuali teriak teriakan demonstrasi emas bombana
kerapkali menjadi hantu di malam buta
– mengejar adipura.


konawe, 2008



tualangku kini

tualangku kini
nestapa tempo lalu
sebentar pula lenyaplah juga kau
menghilang di guratan wajah-wajah asing
menghilang di balik kawanan perahu katinting
kawanan bagang teluk kolaka
lalu menghilang di jam-jam sibukku.

tualangku kini
belantara kota
dengan panggungpanggung besarnya
hiruk pikuk penonton
dan galau pengemis dadakan
lampu kristal jalanan dan rumah pinggiran kali
– yang kerap mati lampu tak terkecuali

tualangku kini
sepi batiniah
pada kelaman malam riuh
pada kasur-kasur tua sendiri


kendari, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar