....aku ingin menjengukmu di sana;

tetapi hanya sesaat saja kita bercengkrama

dengan letusan jantung kita masing-masing

lalu melahirkan anakanak puisi di atas tanah kerontang...

Selasa, 27 Juli 2010

di luar jendela

di luar jendela


di luar jendela, siang hari
gerimis yang kelamaan reda
– mengantar upacara duka,
baru saja usai;
mengulur sisasisa waktu terakhir
dari percakapan rindu yang kita idamkam,
menunda-nunda langkah yang berat
antara nganga pintu dan ujung jalan
tempat kau melenyap nantinya

kita juga waktu – hampir malam
kian lama terasa urung merajang-rajang
kedinginan, lalu sepi di balik jendela

kita menerkanerka setiap sisa waktu lagi
apakah masih bersedia memberikan detik

sebelum kita ke arah mana
entah

konawe, januari 2009




tabere

butterfly, mesin jahit
buatan masa lampau dan kini mengeriput;
sisa ragaman benang, jarum jahit
kotak perkakas dan juga perca-perca kain
rapi tertata, terselimuti sisa-sisa tabere
(yang belum terselesaikan barisan-barisannya
oma tua belum tuntas menyambung makna-makna persaudaraan)

kalau saja musim perkawinan sekarang
masih mengikuti jejak-jejak tempo lalu
(tenda alam, plafon tabere, tabuhan gong
juga sayatan daging ibu-ibu sekampung)
tentu kiranya istiadat yang kami gendong
terusan menceritakan hal ihwal muasal kami.

anggaberi, februari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar